Jilbab lontong, begitu kita menyebutnya, kenapa? Ya karena kalau ada wanita berjilbab yang jilbabnya seolah-olah menempel ketat, kecil atau kekecilan sehingga nampak bentuk kepala serta
lehernya, sering kali membuat ingatan kita melayang pada salah satu makanan khas Indonesia ‘lontong’. Temen-temen tahu dong lontong, tahu jugakan bagaimana bungkusnya, itulah ‘jilbab lontong’, jilbab yang mirip seperti ‘bungkus lontong’.
Begini ceritanya...
Mempunyai seorang adik perempuan, sebagaimana yang saya tuliskan diatas dan sebagai seorang kakak, kita memiliki tanggungjawab moral dan kewajiban untuk membimbing dan memberi teladan kepada adik-adik kita, setidak-tidaknya menjadi contoh yang baik untuk mereka.
Seorang ustadz pernah berkata:
Sejak kecil kami biasakan untuk memakai jilbab, saat duduk di bangku TK, SD, SMP dan sampai sekarang di KMI (Kuliyatul Mualimat Al Islamiyah) di salah satu pondok pesantren di Solo.
Lima tahun yang lalu, pada saat masih duduk di kelas 1 SMP, kami merasa perlu adanya pemahaman lebih lanjut bagaimana seharusnya jilbab itu harus dikenakan, harus ada perbaikan dari jilbab yang dipakai adek waktu itu, agar lebih syar’i.
Istilah jilbab lontong, sebenarnya merupakan kata ejekan/sindiran. Seringnya adek memakai jilbab yang kecil, yang seolah-olah membungkus ketat kepalanya mirip bungkus lontong, kalau adek memakai jilbab yang kecil, kita akan bilang begini “jilbab lontong kok dipakai”, walau seringnya ngambek habis itu, tapi yah Bismillah.. karena niatnya agar lebih baik, jadi yah jalan teruss... –kasih sayang seorang kakak dengan cara yang berbeda... :)
Mungkin karena bising keseringan dikatakan jilbab lontong-jilbab lontong mulu, akhirnya adek mau juga memakai jilbab kerudungnya. Entah terpaksa entah ikhlas, tapi kami pikir ini adalah satu langkah kemajuan. Waktu jilbab kerudungnya dipakai kami bilang begini “nah, ini baru adek kakak, cantik kayak abah lho keliru kayak amak maksudnya hehehe...”
Yang lebih membuat kita bersyukur adalah akhirnya adek bersedia untuk meneruskan sekolah di pondok pesantren setelah lulus SMP. Alhamdulillah, setelah di pondok, cara berpakaiannya ikut jadi lebih baik, terimakasih ya Rabb...
Untuk adek kakak tetaplah menjadi bintang cemerlang bagi keluarga, bagi amak, dan bagi abah di surga.
Amin....





