• Teduhnya Senyumanya

    Suatu saat sekiranya dirimu ditanya Apa yang membuatmu bahagia? Jawaban apa yang bisa kau berikan untuk pertanyaan itu Andai aku yang ditanya Ada satu hal yang membuatku bahagia Satu hal yang mampu mengusir mendung dengan seketika Mengusir kelam dengan sekejap saja Satu hal itu adalah Seyuman Ibu ku Seyuman yang bisa menghapus banyak air mata Senyuman yang penuh kehangatan Ketika melihat Ibu tersenyum padaku saat aku pulang Mendengar tawa khasnya Melihat senyum sumringah yang terpancar dari wajahnya Subhanallah

    read-more
  • Bersyukur itu Seni

    Ada dua ekor burung merpati yang terbang bersama-sama. Ketika akan memasuki satu kawasan tertentu. Tiba-tiba burung yang satu berhenti dan melanjutkan perjalanannya dengan jalan kaki. Sedangkan yang satu tetap terbang. "Kok jalan kaki, Kenapa gak terbang aja? kan lebih cepet" penuh tanda tanya. "Memangnya kau gak lihat? itu!" Sambil menunjuk ke arah sebuah rambu bergambar 'Burung Terbang' dan diberi tanda silang ditengahnya. Di bagian bawahnya bertuliskan 'Zona Larangan Terbang'. hehe..(yang ini tidak tertulis di papan rambu lho..)

    read-more
  • Siluet Putih Jingga

    Tidak perlu menutup hati nurani Untuk menyatakan sebuah kebenaran Tidak perlu! Perbedaan menjadi bahan utama permusuhan Karena kebenaran dan perbedaan adalah fitrah Ego yang berlebihan lah.. Yang terkadang membuatnya menjadi sesuatu yang salah Ego kita yang membuat kita terkadang sulit mengakui kebenaran Padahal kebenaran itu tampak nyata Ego jualah tekadang membuat sebuah pembenaran Bahwasanya perbedaan sering kali menjadi alasan permusuhan Fitrah manusia itu saling menyayangi Maka sayangilah… Seperti langit menyayangi bumi dengan sinar mentarinya Ranting.. daun.. dengan bunganya Pagi dengan embun bening di ujung daunya

    read-more
  • Satu Kasih Sayang

    Ahamdulillah.. ada kesempatan untuk pulang kampung. InsyaAllah, moga esok lusa bisa melihat sinar matahari yang indah nan cerah di kampung halamanku. Ya Rabb semoga tak terhalang batu kerikil dan jalan- jalan berlubang serta kemacetan yang terlalu panjang. Aku ingin segera berjumpa dengan amakku, sosok hebat yang selalu memberi kami perlindungan dan kasih sayang. Mencium tangannya, sungkem bakti di pangkuannya. ... Masih teringat saat tangannya yang sudah mulai keriput mengusap kepalaku, subhanallah seolah ingin kembali ke masa kanak-kanak. Terbayang olehku satu kenangan waktu kecil dulu...

    read-more
  • Sepenuh Kasih

    Seolah hati diombang-ambing dua samudra Untuk terus atau bertahan pada ketetapan yang awal Tidak tahu pasti apa yang sebetulnya diinginkan oleh hati ini Walau mungkin hati ini punya jawabnya sendiri Sama tidak tahunya apa yang sebenarnya sedang terjadi Walau mungkin diri ini punya caranya sendiri untuk mengerti Seolah sedetik waktu kehilangan ukuranya untuk melaju Seperti anak panah yang kehilangan arah Tidak tahu kemana titik sasaran yang harus dituju Entahlah... Begitu banyak rasa bercampur di dada Apakah harus memilih? Walau aku ingin menyatukanya dalam satu rasa yang indah

    read-more
Previous Next
Welcome To Salleum's Blog

Puja Sera

Cerita-Ku

Salleum Sami

Archive for 2011

Tidak perlu menutup hati nurani
Untuk menyatakan sebuah kebenaran
Tidak perlu perbedaan menjadi bahan utama permusuhan

Karena kebenaran dan perbedaan adalah fitrah

Ego yang berlebihan
Yang terkadang membuatnya menjadi sesuatu yang salah
Ego kita yang membuat kita terkadang sulit mengakui kebenaran
Padahal kebenaran itu tampak nyata
Ego jualah tekadang membuat sebuah pembenaran
Bahwasanya perbedaan sering kali menjadi alasan permusuhan

Fitrah manusia itu saling menyayangi
Maka sayangilah…
Seperti langit menyayangi bumi dengan sinar mentarinya
Ranting.. daun.. dengan bunganya
Pagi dengan embun bening di ujung daunya

Seperti aku dan kamu
Ya seperti kita…
Karena Allah kita menyayangi
Karena Allah kita mencintai

Jangan biarkan mendung hitam terus bergelayut di hatimu
Jangan biarkan kelam merajam tajam

Bukalah hatimu untuk menyayangi
Bukan untuk meng-hegemoni
Bukalah hatimu untuk cinta
Bukan untuk cinta

Biarkan mereka mengalir lembut
Mengisi setiap relung di hatimu
Menghapus semua noda dan kelam
Jadikanlah cerah berbinar

Sekali-kali coba kau dengarkan kicau burung
Yang terbang bebas di antara ranting-ranting
Membebaskan diri bersama angin yang menabuh daun-daun
Rasakan dingin gemericik air.. hembusan angin..
Gelak tawa bocah-bocah yang riang bermain..

Kau tak akan percaya
Kau telah kembali pada titik yang semestinya
Siluet putih jingga...

Andai saja semua berawal dari sana
Mungkin.. akan ada banyak pelangi di hati kita..
Semarang, Desember 2011
Salleum Sami

Read More

Ahamdulillah.. ada kesempatan untuk pulang kampung. InsyaAllah, moga esok lusa bisa melihat sinar matahari yang indah nan cerah di kampung halamanku. Ya Rabb semoga tak terhalang batu kerikil dan jalan- jalan berlubang serta kemacetan yang terlalu panjang. Aku ingin segera berjumpa dengan amakku, sosok hebat yang selalu memberi kami perlindungan dan kasih sayang. Mencium tangannya, sungkem bakti di pangkuannya.
...

Masih teringat saat tangannya yang sudah mulai keriput mengusap kepalaku, subhanallah seolah ingin kembali ke masa kanak-kanak. Terbayang olehku satu kenangan waktu kecil dulu, saat dimana aku merajuk, 'kesel' tidak mau berangkat sekolah, hanya gara-gara rambut yang sudah susa-payah aku rapikan dan aku bentuk gaya sedemikian rupa dengan seenaknya diacak-acak oleh kakakku. Gimana gak kesel, hampir limabelas menit aku menatanya. Susah payah.

Pagi-pagi sebelum berangkat sekolah

Mendengar ribut-ribut amak-pun segera datang "ssssttt pagi-pagi sudah ramai" sambil menatap kami berdua.

"Kakak ini sama adek selalu saja.." tidak meneruskan bicaranya -seolah tahu kalau kakak yang selalu memulai keributan. Perlahan amak menghampiri diriku yang sedang duduk beringsut di lantai dengan merapatkan tubuhku di pojokan balai. Wajah kutekuk. Pandangan jatuh ke bawah.

"Adek gak mau sekolah! kakak jahat!" dengan nada kesel, kupakukan pandanganku ke lantai. Posisi dudukku tidak berubah, kulipatkan kedua kaki dan kudekap lututku. Masih merapatkan tubuhku di pojokan balai.

"Kakak jahat" sekali lagi "pokoknya gak mau sekolah" kali ini aku sambil melihat wajah kakakku yang malah cengar-cenggir melihatku seperti itu. Tanpa rasa bersalah sedikitpun.

"Lho.. masa jagoan amak ndak sekolah??" penuh kelembutan dan kesabaran. amak menggendongku dan mendudukanku di pangkuannya.

"Yahh! jagoan..." sela kakakku sinis

"Ssstttt..."

"Habis kakak jahat! lihat ini amak" kutunjukkan rambutku yang sudah acak-acakan ndak karuan. Hasil ulah tangan jahat kakakku. "kan capek kalau harus nyisir lagi, sudah susah-susah..." amak berusaha mengusap rambutku dan merapikannya dengan jari-jarinya. Dengan penuh kelembutan. Dengan penuh kasih sayang.

Kelembutanya dan kasih sayangnya selalu saja mampu menghadirkan kesejukkan dalam hatiku. Terasa damai kembali. 

"Pokoknya adek gak mau sekolah" datar, karena amarah yang sedikit demi sedikit habis.

"Ya Sudah..., sini biar amak yang nyisir rambut adek" menuntunku menuju ke depan cermin sambil kemudian pelan-pelan menyisir rambutku. Dengan penuh kelembutan. Dengan penuh kasih sayang.  

Sedang kakakku masih sibuk membetulkan seragam sekolahnya.

"Nanti kakak biar amak yang hukum" mulai menyisisr rambutku dengan menambahkan sedikit minyak kelapa di rambut kepalaku sebelah depan. 
Memang rambutku waktu kecil agak susah diatur. Sebelah depan keriting kriwil, samping dan belakang menggombak, jadi susah rapinya.

"Gak mau nanti! sekarang!" aku merajuk ayo amak, cepat hukum kakak, batinku. 

Amak memanggil kakak, setelah sebelumnya aku berjanji, aku akan berangkat sekolah kalau kakak sudah dihukum. 

"Kakak sini! tangan mana yang dipakai ngacak-ngacak rambut adek?" 
Kakak menunjukkan tangan kanannya, kemudian mengulurkannya pada amak.

Cara amak menghukum kami itulah yang menurutku unik. Jadi saat amak akan memukul tangan kakak sebelumnya tangan kiri amak ditaruh diatas tangan kanan kakak. Kemudian amak memukulnya sebanyak tiga kali. Kakak terus akting pura-pura kesakitan "aduh.. aduh.. aduh.." walaupun sebetulnya tidak terasa sakit. Ya terang saja ndak sakit, karena pukulan amak tidak langsung pada tangan kakak, melainkan terlebih dahulu pada tangan amak sendiri. Walaupun begitu, waktu itu sudah membuatku cukup senang. 

Aku menyadarinya saat aku sudah besar, aku punya adek, dan karena aku juga dihukum dengan cara seperti itu pula waktu jahil sama adekku. Ternyata benar, tidak sakit. , he..he..he

Subhanallah itu adalah hukuman dengan  penuh kasih sayang. Mungkin sama, kalau nanti aku jadi orang tua aku akan memberi hukuman dengan cara yang seperti itu. Yang penuh kelembutan. Yang penuh kasih sayang.
...

Begitulah amak-ku
Amak yang amat kusayangi
Semoga Allah selalu menyayanginya sebagaimana beliau menyayangi kita
dan kita anaknya, ah rasanya kita tidak akan sanggup menandingi kasih sayangnya
Bahkan untuk menandingi satu kasih sayangnya-pun kita tidak akan sanggup

Ya Rabbi
Aku ingin mewarnai hari-harinya dengan banyak pelangi
Aku ingin mengisi setiap waktunya dengan banyak senyuman

Ya Rabb..
Semoga Kau jadikan setiap detik yang berlalu darinya adalah kebahagiaan

-"Amak" I Love You -
...

Tidak akan pernah cukup, meski kita habiskan seluruh umur kita untuk membalas satu saja kasih sayang dari seorang ibu. Apalagi untuk seluruh kasih sayangnya...

Semarang, 07 Oktober 2011
Salleum Sami

Read More

Seolah hati diombang-ambing dua samudra
Untuk terus atau bertahan pada ketetapan yang awal
Tidak tahu pasti apa yang sebetulnya diinginkan oleh hati ini
Walau mungkin hati ini punya jawabnya sendiri
Sama tidak tahunya apa yang sebenarnya sedang terjadi
Walau mungkin diri ini punya caranya  sendiri untuk mengerti

Seolah sedetik waktu kehilangan ukuranya untuk melaju
Seperti anak panah yang kehilangan arah
Tidak tahu kemana titik sasaran yang harus dituju

Entahlah...
Begitu banyak rasa bercampur di dada
Apakah harus memilih?
Walau aku ingin menyatukanya dalam satu rasa yang indah

Ya Rabbi
Engkaulah yang mengizinkan bunga-bunga bermekaran begitu indahnya
Yang mengizinkan  sungai-sungai menemukan tempat bemuaranya
Yang menjadikan bumi beratap bulan dan bintang-bintang nan menawan

Ya Rabbi
Engkaulah Kuasa 
Yang tidak akan pernah luput sekecil apapun dari kuasa-Mu
Hanya kepada-Mu aku tautkan segala kemungkinan
Kepada-Mu aku gantungkan semua harapan
Hanya kepada-Mu aku berlindung dari segala rasa

Hanya kepada-Mu ya Allah aku memohon
Izinkan tempat yang paling indah untuk hatiku bermuara

Hanya kepada-Mu ya Allah
Sepenuh cinta
Sepenuh kasih


Ketika kehidupan tidak cukup bermurah hati mewujudkan mimpi, kita tambatkan harapan kepada sumber segala harapan; Allah! (Anis Matta)

Ketika engkau terasa sempit memandang dunia, maka pandanglah langit
 Tidak akan jatuh daun dari rantingnya, kecuali Allah telah menetapkan urusannya..

Semarang, 26 September 2011
Salleum Sami

Read More

Usianya 35 tahunan, posturyna tinggi besar, perawakan tentara. tapi sayang, kerjaanya bawa map isi surat-surat untuk sumbangan. Ini perkiraan sementara..

Pagi jam 10an
"Se..lamat pa gii.." terdengar agak ragu-ragu. Seorang laki-laki dengan memakai dua buah krek yang menopang kedua kakinya, bercelana jeans, baju masuk, tampak lebih rapi, kemejanya kotak-kotak warna biru gelap, merknya...tidak begitu kuperhatikan, tidak penting batinku. Mungkin sama seperti orangnya, tidak penting. Saya megatakan ini bukan untuk bermaksud tidak sopan, tapi memang saya cukup sering berhadapan orang-orang semacam ini, yang mengaku dari sinilah..sanalah..panti inilah itulah. Langsung masuk karena memang pintu kantor pas lagi terbuka.

"Iya pak ,selamat pagi, silahkan”

"Dari mana..dan ada perlu apa ya..?" ku perhatikan orang ini (tentu saja kulakukan dgn sikap yang biasa). Curiga! ini kesan pertama. kesimpulan ini kudapatkan dari analisis sederhana yang aku lakukan waktu dia masuk pertama kali tadi. Dia bukan seorang aktor yang baik, bahkan buruk. Terlihat dari caranya menggunakan krek, blepotan ndak karuan.

"Maaf mas, eeemm saya dari ********..." kemudian ingin menjelaskan maksud kedatangannya, tapi sebelum selesai menyampaikan maksudnya sengaja saya potong, karena saya rasa saya cukup mengerti kemana arah pembicaraannya.

"Ohh ya tunggu sebentar" dan langsung saja saya masuk, saya panggilkan orang yang tepat menghadapi tamu yang satu ini. nama orang itu sendiri taulah belum sempat untuk bertanya.

Akhirnya temen saya yang menemui orang itu dan saya sendiri saat itu masih satu ruangan dgn mereka, jadi apa yang mereka bicarakan cukup jelas terdengar dari tempat dimana saya duduk. Pak Trisno, nama orang itu, begitu yang aku dengar saat dia memperkenalkan dirinya kepada temen saya.

"Bla..bla..bla.." pembicaraan selesai, setelah akhirnya temen saya mengeluarkan amplop.Isinya berapa aku tidak tau yang jelas isinya duwit.

Nah, setelah mengucapkan terimakasih, waktu dia bangun dari tempat duduk, mungkin kelupaan atau gmn atau mungkin juga saking gembiranya, yes dapet!!. dia trus bangun begitu saja, seolah-olah tidak tejadi apa2 pada kakinya, tapi dia orang yang cukup reaktif itu menurutku, belum sempurna dia berdiri sedetik kemudian dia pakai krek nya seperti semula, mugkin tau kalau di perhatikan.
Kejadian itu memeperkuat kecurigaanku dari awal tadi. Dia memang seorang aktor yang buruk, tapi setidaknya tujuannya berhasil, dapet duwit.
...
Mungkin benar kata para pengamat, Indonesia sudah merdeka selama 66 tahun, tapi mentalitas bangsa ini masih tetep terjajah sampai sekarang. Kisah diatas setidaknya menghadirkan titik kecil bukti keterjajahan mental bangsa ini. Terlalu banyak potensi bangsa ini yang terbuang percuma, keindahan dan kekayaan alam, kebijakkan pengelolaan yang tidak benar. Mudah sekali mengatakan kebijakkan ini tidak benar, lihat saja kondisi rakyat  masih jauh dari kata sejahtera, kalau kebijakkan benar tidak mungkin itu terjadi.

Potensi pemuda dan sumber daya manusia, hilang! bagaimana tidak? sudah keterlaluan setiap pagi, setiap hari, pemuda-pemudi bangsa ini "dipaksa" menyaksikan mendengarkan baik dari tv atau langsung, musik-musik picisan, jingkrak-jingkrak, karuan saja musiknya menimbulkan gelora yang mengerakkan, menyadarkan apa yang sedang dialami bangsa ini dan apa hal kecil yang bisa dilakukan. Sebaliknya justru menenggelamkan dan menegaskan terjadinya "keterjajahan mental", membangkitkan budaya hedonisme permissifisme (serba boleh). Waktunya habis untuk memikirkan hal-hal yang kecil. Seolah-olah masalah kita hanya cinta-cintaan yang tidak jelas kemana arahnya –Astaghfirullah..

Ironis memang, hiburan, refreshing yang seharusnya hadir sebagai selingan dari "menu utama", agar kita tetep semangat, justru menjadi arus utama anutan yang sering disalah artikan dan disalah gunakan.  Bangsa ini sudah "over dosis" dalam mengkonsumsi hiburan, kalau overdosis obat jelas mati akibatnya, tapi yang ini beda yang mati adalah pikiran kita, mentalitas kita. Duh pemuda Indonesia kemana hendak kau tujukan langkahmu?

Sebuah kutipan dari kalimat Bung Karno
“Beri aku satu pemuda akan kugoncang Indonesia, beri aku sepuluh pemuda akan kugoncang dunia”
Begitulah hebatnya pemuda, dia adalah penggerak dalam tubuh sebuah bangsa, Indonesia.  “Antum ar ruhul jadid fi jasadil ummah” (kalian adalah ruh baru dalam tubuh umat) (Hasan Al Banna)
pesan itu jelas ditujukan untuk siapa..,yah itu untuk kita "pemuda Indonesia". Semoga kita segera berbenah

Wallau'alam
Semarang, 18 Januari 2011
salleum sami


Read More

selaksa do'a penuh cinta utk abah di surga
dari kakak, adek, amak. we love you dad

abah
sekarang sudah tahun 2011 atau 1432 H, tepat 10 tahun abah meninggalkan kami untuk memenuhi panggilan Rabb yang kami cintai, yang di tangan-Nya kekuasaan atas diri ini berada dan tempat dimana belas kasih dan harapan di gantungkan.

abahku sayang
semoga abah disana baik-baik. abah! amak titip salam, salam rindu katanya, sudah aku sertakan bingkisan air mata rasa cinta juga dari amak. semoga abah senang mendengarnya. cahaya-Nya semakin terang menerangi langkah abah disana. amin

oya bah adek juga titip salam, salam cling-cling. kemarin sempet nanya ma kakak,  buru-buru soalnya mau balik ke pondok, maklum bah waktu itu hari terakhir liburan, jadi harus cepet-cepet balik.

"kak ada foto abah yang itu dimana yahh? mau aku bawa, nanti pas aku kagen abah atau pas aku sedih, lihat foto abah yang itu pasti aku kembali bahagia setidaknya akau bisa tersenyum lihat foto abah"
tambah adek lagi, "soalnya foto abah yang itu senyumnya manis sih.., 'cling-cling'..hehe"
itu loh bah, foto waktu abah masih pake gigi perak, itu kan abah pas ketawa, jadi pas kena bliz foto ya.. cling-cling hehe. adek suka sama foto itu bah. katanya abah lucu pas di foto, gigi peraknya itu loh.

kalau kakak mah lebih suka foto waktu abah foto bareng amak. waktu itu kakak kan mau foto abah sama amak trus kakak bilang "bah, tangan amak di pegang dong biar tambah mesra"
lihat abah yang jadi cilang-cilung, malah membuat kami berlima ketawa-ketiwi he, masa dah hampir 30 tahun menikah abah masih malu-malu megang tanga amak ish..ish..ish (ini niru gaya upin-ipin bah, itu kartun anak yang sekarang lagi naik daun).

kakak juga sih, masih suka godain abah sama amak, tapi pun begitu fotonya tetep bagus kok. tapi ada yang lebih bagus bah, lebih istimewa, kenangan yang tersimpan didalam foto itu. sangat berharga bah. tapi sayang fotonya ba'da kejadian itu ndak tahu ada dimana, afwan ya bah, tapi walaupun begitu kenangan itu akan tetap terdokumentasikan dengan baik di hati kami, putra-putri abah dan amak yang manis-manis (itu kata tetangga-tetangga kita dulu).

abahku sayang
Alhamdulillah adek masih bisa sekolah, sekarang kelas 2 KMI di salah satu pondok putri di solo, adek dah remaja lho bah, dah 17 tahun. InsyaAllah tentang adek lain kali aku ceritakan deh bah.
sekarang aku ingin berbagi cerita dengan abah, cerita roda kehidupan keluarga kita setelah abah pergi meninggalkan kami untuk selamanya. roda kehidupan yang sering abah bicarakan.

abahku sayang
semoga abah selalu dalam lindungan Allah. betul kata  abah dulu, kalau kehidupan itu bagaikan roda yang berputar kadang dia di atas kadang juga dia dibawah. sambil becerita tentang hidup abah, yang dulunya anak petani, ndak tamat SD, menjadi orang yang seperti sekarang ini, abah yang sangat aku banggakan.  

ini tentang kenangan beberapa tahun setelah abah pergi, pergi untuk selamnya.
setelah kepergian abah. keluarga kita serasa berbeda, tidak hanay berbeda dengan tidak adanya sosok abah disana, tapi semua berubah, semuanya bah, dari punya apa-apa sampai tidak punya apa-apa.

abah pergi terlalu cepat, kakak masih terlalu muda untuk menggantikan abah mengurusi binis keluarga, apalagi kami waktu itu masih duduk di bangku SMP, jadi sama sekali belum ngerti tentang bisnis. di tambah krisis ekonomi yang melanda negeri kita, yang membuat banyak pengusaha gulung tikar. -ini aku tahu saat aku sudah dewasa, setelah membaca banyak artikel dan literatur tentang "tragedi '98"-.

abah pasti sudah bisa menebak cerita kelanjutan bisnis keluarga kita, iya bah, akhirnya kakak hanya mampu bertahan tiga (3) tahun, setelah itu semuanya abis bah, hanya tinggal kenagan yang indah dan beberapa petak tanah, yang terakhir ini mati-matian amak pertahankan.

"ini tidak boleh dijual, pokoknya tidak boleh, kalau ini di jual adek-adek kamu dapat apa" kata amak pada kakak sambil nangis, baru kali ini saya lihat amak nangis sedemikian hebat. akhir-akhir ini banyak orang datang menagih hutang, saluran telepon terpasak di putus, karena setiap kali ada telpon pasti orang yang mau nagih hutang. dan sekali lagi amak pasti nangis.
"kalau abahmu masih hidup, tidak mungkin jadi seperti ini.. kata-kata orang tua itu mbok di dengar to le le..., apa sudah tidak kau anggap amak ini sebagai amak kamu? ato sebaiknya amak nyusul abah saja? biar sekalian, kalian tidak punya amak dan abah" masih dengan ar mata yang terus keluar, tidak tau bah waktu itu rasanya ada yang begitu menyesakkan di sini, si dalam sini bah, ada yang menyesak, mendesak ingin keluar, maaf bah -ini pun belum aku mengerti-, tiba-tiba pipiku sudah basah, basah oleh air mata.

waktu itu amak menggangap semua karena kesalahan kakak, kakak di nilai terlalu baik bahkan terkesan ngawur untuk usia bisnis yang masih bau kencur,-ini pun aku pahami saat aku dewasa yang sedikit mengerti tentang dunia bisnis-. mafkan saya bah waktu itu saya masih terlalu kecil untuk memahami apa yang sdang terjadi, tidak mampu memberi masukan apapun, apalagi adek waktu itu umurnya baru 9 tahun, mana ngerti dunia bisnis.

semua berawal dari sebuah spekulasi yang kakak lakukan. -kalau saya menyebutnya "spekulasi untuk kebaikan"-, jadi kakak memberi barang daganggan kepada beberapa orang, tidak beberapa orang sih bah, soalnya ada keponakan abah, mantan karyawan abah dan beberapa orang baru. niatnya baik agar mereka punya kerjaan, dan kakak juga punya daerah pemasaran baru. hampir semua kakak yang modalin.

awalnya berjalan lancar, tapi kira 1,5 tahun kemudian ada pemain baru, tetangga kita juga bah, tapi kondisi keuangannya jauh lebih baik dari pada kondisi kita saat itu. cara instan, yang mereka terapkan untuk merebut pasar adalah 'jual rugi'. entahlah bah sistem ini ada gak di bangku kuliah, tapi yang jelas kalau di lapangan sistem ini ada, apalagi untuk jenis usaha yang keluarga kita lakukan, sangat efekstif, walaupun tetap penuh resiko. jadi mereka menjual barang yang sama kualitasnya, tapi dengan harga yang segaja dirugikan, kekuatan utama adalah modal, tujuan utama adalah menguasai pasar, jadi pemain tunggal.

disinilah kesalahannya bah. ini pun aku tahu setelah aku dewasa, -dan bukan sempurna sebuah kesalahan, itu menurutku-. kakak tidak ridho kalau pasar yang dibangunnya dengan waktu dan cara baik-baik harus hilang dengan cara yang semacam itu.

yang ini abahpun bisa tebak cerita kelanjutannya, iya bah akhirnya kakak kalah, -perlawanannya sudah maksimal bah-, kakak kalah modal, kakak kalah pengalaman, kakak dengan tidak adil, itu menurutku bah, tapi sekali lagi waktu itu kakak masih anak kemarin sore dalam bisnis keluarga kita.
abahku sayang

abah tahu, saat itulah saya merasa keluarga kita berada di sisi roda kehidupan bagian bawah, bawah yang paling bawah bah. masa-masa yang paling sulit, masa-masa penuh air mata. berat bah...
sejak usaha keluarga kita bangkrut, dan utang keluarga menupuk. setiap saat, bahkan hampir tiap hari orang datang untuk menagih hutang. semestinya bisa dengan menjual beberapa petak tanah untuk melunasi utang keluarga kita, tapi amak tidak mengizinkan. mungkin amak berpikir, itu satu-satu peninggalan abah untuk adek-adek yang masih kecil.

abahku sayang
maaf bah bagian ini baru sekarang saya ceritakan, empat tahun setelah kepergian abah selama itu pula, kita hampir tidak pernah lagi melihat amak tersenyum, senyum yang penuh kesejukkan itu hilang bah, amak lebih banyak menangis, merenung, menangis. tidak hanya itu bah amak, malaikat kami yang penuh kelembutan itu berubah menjadi pemarah, marah tanpa alasan yang dapat kami mengerti.

rumah yang dulu seperti surga, sekarang seperti rumah kosong yang jauh dari aroma canda kehidupan, rumah kita jadi panas, pengap, hanya kenangan-kenangan indah waktu kita masih bersama dulu sesekali menghadirkan hawa sejuk. itupun hanya sebentar. segera terhapus oleh amarah amak, atau kalau tidak terhapus oleh tangisan amak.

pernah waktu itu adek mau berangkat ngaji, saat itu adek masih duduk di bangku SD, saya SMA bah.  seperti biasa bah, setiap sore saya yang mengantar adek pergi mengaji. entah kenapa adek tiba-tiba keluar rumah sambil menangis, sampai-sampai susah sekali untuk bernafas.

"adek kakak yang cantik kok nangis kenapa?" sebetulnya saya tahu bah, kalau adek habis dimarahi amak. segaja, sedih bah rasanya melihat adek yang sekecil itu ikut menanggung beban hidup keluarga kita.
"tadi adek mau minta uang saku buat jajan kak. tapi ndak tau, trus tiba-tiba amak marah "minta uang saja bisanya", sambil bentak adek" sesenggukan adek bercerita
"trus di kasih sama amak"
"di kasih kak, Rp 300" sambil menunjukkan tiga uang receh pecahan seratusan kepada saya. sedih banget bah, mau nagis bah sebetulnya, tapi saya tahan -saya harus lebih siap dari pada adek-adek, itu pikir saya. hanya gara-gara uang tiga ratus perak, tiga ratus perak bah. setelah abah pergi amak betul-betul berubah. bahkan untuk alasan yang benar-pun amak masih marah-marah.
"ya sudah, mungkin amak betul-betul ndak punya uang, adek nanti ndak usah jajan dulu yah. uangnya dikasih ke amak lagi aja" adek ndak jawab bah adek cuma nganguk, sambil menyerahkan uangnya ke saya. abah harus bangga, malaikat kecil kita "terpaksa" mengerti kondisi keluarga kita, masih kecil bah. -dalam hati saya berfikir kali ini amak sudah kelewatan- nanti setelah mengantar adek, akan saya tanyakan ini sama amak. saya menyimpan rasa kecewa yang amat besar pada amak, tentu saja tidak saya perlihatkan di depan adek.

Alhamdulillah, adek sudah lebih tenang, setelah itu saya anter naik sepeda ke masjid tengah desa, tempat biasa dia ngaji.

abahku sayang
afwan bah, saya khilaf..
setelah pulang saya langsung menemui amak
"amak!! ini uang amak, kalau amak ndak mau ngasih, ndak usah marahin adek, adek juga bisa kok ndak jajan" sekali lagi afwan bah saya khilaf, saya bentak amak, sambil gebrak meja,
uang 300 saya lempar, sambil nagis bah, ndak tau rasanya semua campur jadi satu, sedih, marah, sakit, kecewa. tidak tahu bah rasanya tidak sanggup lagi menahan, semua keluar begitu saja. aku lihat amakpun menangis, akupun sedih bah melihat amak menangis. sedih.

setelah kejadian itu rasanya ingin pergi dari rumah bah, pergi entah kemana, pokoknya pergi jauh dari rumah. waktu itu yang tinggal dirumah hanya amak, saya, dan adek-adek. kakak tinggal di rumah mertuannya, kakak yang satunya lagi ikut pak lek kerja di luar kota.

saat itu pula kaki ini terasa kaku untuk pergi dari rumah, inget adek bah, kalau saya pergi bagaimana adek nanti, ndak tega bah gmn nanti kalu amak marah lagi, kasihan sama adek.
Alhamdulillah, saya bisa dipaksa untuk dewasa bah, walau hampir tiap hari lihat amat marah trus suatu saat nangis. begitu hari-hari kami lalui tanpa abah disana. berat bah, tapi harus tahan.

abahku sayang
kekuatan untuk tetep bertahanpun aku dapatkan dari abah
"semua boleh hilang, tapi senyum jangan sampai ia hilang walaupun ia hanya tinggal sisa di hati saja, karena senyum adalah titik awal dimana semua cerita kebahagiaan itu berasal"
abah tidak pernah mengatakan ini, tapi inilah teladan yang secara tidak langsung abah ajarkan pada kami, putra-putri abah. terimaksih abahku sayang.

 kami akan selalu sayang sama abah sama amak adek juga, semuanya. nanti aku ceritakan, bagaimana senyum malaikat kelembutan kami itu kembali, senyum amak untuk pertama kalinya setelah sekian tahun abah tiada.

abah
abah sekian dulu surat cinta kami
kami sayang sekali sama abah
abah betul roda kehidupan itu berputar
sedemikian roda keluarga kita bah
sudah bergerak sedikit keatas.
abah
salam berjuta rasa rindu
salam air mata rasa cinta dari amak
semoga abah selalu dalam rahmat Allah


Allah sayangilah abah sebagaimana abah menyayangi kami semua

semarang, 19 Januari 2011
salleum sami



Read More

Jilbab lontong, begitu kita menyebutnya, kenapa? Ya karena kalau ada wanita berjilbab yang jilbabnya seolah-olah menempel ketat, kecil atau kekecilan sehingga
nampak bentuk kepala serta

Read More

Hujan turun...
Semoga datang dengan membawa pesan kedamaian dan kesejukkan dari surga
Pesan mata air telaga di tengah negeriku yang kering
Kering bukan tiada air justru disini malah berlimpah
Namun kering karena cinta kasih yang kian kempis
Lalu mungkin saja akan musnah dan sirna
Kering karena hilang sudah pehatian
Rasa saling memiliki, rasa saling peduli
Hilang sudah rasa welas asih manusia bumi

Kering karena tangan sudah enggan memberi
Karena hati sudah enggan merasa
Kering karena senyuman disini rasanya begitu pahit

Hujan turun...
Semoga membawa pesan mata air cinta 
Ditengah negeriku yang makin panas
Panas bukan karena sengat mantahari
Tapi panas melihat nasib anak-anak negeri di pinggiran jalanan
Di kolong-kolong jembatan
Yang hanya tidur beralaskan tikar dan kardus sampah
Berteman nyamuk
Berselimut daun dan debu jalanan

Seolah matahari enggan menyisakan sedikit saja sinarnya untuk mereka
Negeri yang kaya ini
Negeri yang subur ini hanya dalam mimpi saja

Begitukah pelakuan kita kepada calon pemimpin bangsa?
Lihat saja para pemimpin jabatan.. memuakkan!
Lebih sering comberan daripada moral keteladanan
Lebih senang memberi racun daripada seteguk air
Sekedar mengusir rasa haus dan lapar

Seolah tak rela kesejahteraan itu untuk negerinya
Disimpan sendiri di dalam perutnya -laknat! 
Mungkin hati nuraninya sudah ditikamnya sampai mati

Ya Rabbi
Apakah betul negeri ini tidak ditakdirkan untuk bahagia?
Tidak pantas untuk sejahtera?
Bencana demi bencana datang silih berganti

Ya Rabbi
Apakah cerita manis itu sudah habis?
Apakah tidak ada yang tersisa sedikitpun cahaya untuk negeri kami? 

Ya Rabbi
Suatu saat kelak
Semoga Engkau berkenan Rahmat dan kasih-Mu untuk negeri kami
Sepeti air yang membawa kehidupan
Seperti hujan yang menjanjikan sebuah harapan

Ya Rabbi
Aku percaya 
Langit esok hari akan terlihat jauh lebih indah..

Semarang, 06 September 2011
salleum sami

Read More



Sahabat pernah kau lihat berlian? indah bukan..kau mau? nanti akan aku tunjukkan dimana kau bisa mencarinya. ini bukan berlian biasa sahabat, karena ini adalah yang terbaik. tenang saja masih ada kok kau pasti bisa mendapatkannya, minimal kau tahu kalau itu ada, insyaAllah...

sahabat!! sekiranya kau bisa memilikinya, apa yang kau pikirkan?? ohh...
kau mau menjualnya? padahal ia lebih berharga dari yang kau bayangkan, kalau kau tahu seperti apa berlian itu, aku yakin! kau akan enggan menjualnya, karena memang tidak ada seorang manusiapun yang sanggup membelinya

andai kau tahu, aku yakin! kau akan menjaganya, bahkan walau harus dengan darahmu

sahabat, mungkin sekarang kau sudah memilikinya atau malah kau sedang bersamanya, boleh jadi ia selalu bersamamu kemanapun kakimu melangkah, selalu memberikan kemilaunya...

Read More

Tidak ada yang sendiri...
Terkadang kita terlalu egois untuk mengakui kalau mereka ada
Atau juga kita sudah merasa yang paling pantas diakui
Merasa yang paling pantas yang paling berjasa

Dalam jeda waktu sejenak
Coba kita perhatikan cara matahari, bulan dan bintang bersahabat
Bukankah mereka saling meniadakan?
Siang meniadakan malam
Malam meniadakan siang

Lihat pula
Bagaimana embun pagi dan matahari bersahabat
Bukankah mereka juga saling meniadakan?
Karena matahari embun-pun jadi hilang
Hanya menyisakan sedikit hawa dingin
yang sebentar lagi juga akan lenyap


Bagaimana pula daun dan angin bersahabat
Tak pernah daun membenci angin
Walaupun angin membuatnya jatuh dari ranting-ranting
Dibawa kemana hembus angin berarah
Berserakan jatuh ke tanah

Lihatlah..
Bagaimana alam ini  bersahabat
Sungguh mereka telah memberi kita banyak pelajaran
Tentang keikhlasan, kerelaan
Tentang perbedaan dan tentang pengorbanan
Tentang kehidupan

Dari mereka kita belajar
Bagaimana membangun persahabatan di tengah alam perbedaan

Sungguh indah
Seperti hujan yang menjanjikan indahnya warna pelangi...


semarang, 09 februari 2011
salleum sami

Read More

Semesta bertasbih subhanallah...
Air bertasbih dengan jernihnya yang terus mengalir
Yang memberikan kehidupan pada tiap apa yang dia lewati
Daun pun bertasbih dengan kerelaannya dibawa
Kemanapun arah angin berhembus

Matahari dan bulan
Bertasbih dengan siang dan malamnya
Bertasbih dengan cahayanya yang menawan
Hujan pun bertasbih dengan indah pelanginya
Gunung bertasbih dengan bentangan yang menyejukkan
Bayi pun bertasbih dengan tangisannya yang memberi kita sebuah senyuman

Laut bertasbih dengan ombak yang bersahut
Burung bertasbih dengan nyanyian alam yang merindu
Bintang-bintangpun bertasbih
Alam rayapun bertasbih dengan keluasanya yang tak terkira
Dan semestapun bertasbih..

Kita pun bertasbih
Mata bertasbih dengan tunduk pandangannya
Bertasbih degan air matanya
Air mata rindu pada Rosul nya
Air mata sesal akan dosa dan maksiat sekecil apapun itu
Air mata bahagia, syukur atas segala nikmat
Air mata cinta kepada Rabb nya

Tanganpun bertasbih dengan kerelaannya meringankan beban saudaranya
Kaki bertasbih dengan ringan melangkah ke tempat yang Allah cintai
Mulut bertasbih dengan menjaga lisannya
Bertasbih dengan kata-kata yang benar
Bertasbih dengan senyum tulusnya

Dan hati
Ya.. ia pun bertasbih dengan penghambaan keikhlasannya
Untuk menjaga semuanya...

semarang, 07 februari 2011
salleum sami

Read More

tak ada yang sia-sia Allah ciptakan
walau hanya sebutir debu yang berterbangan
walau hanya setetes air bagi lautan
kita bagi semesta mayapada
semuanya saling berkaitan
sedih-senang, sakit-bahagia
aku-kamu, sendiri-bersama
semuanya...

hanya kemapanan iman
kemapanan Allah dalam hati kita
kemapanan cinta-Nya
yang akan memberikan kita sebuah senyuman...
ya sebuah senyuman pada akhir cerita
InsyaAllah..

semarang, 05 februari 2011
salleum sami

Read More

apakah tak perlu lagi 'bersalaman' yang ikhlas sepenuh hati
yang penuh kebersahajaan, kehangatan, persaudaraan
'bersalaman' tanpa merasa lebih dari yang lain

'bersalaman' tanpa membedakan

Read More

Aku pernah dengar ada sebuah negeri
Negeri yang elok negeri yang katanya indah permai
Subur tanpa tanding
Negeri para bintang kahyangan

Negeri warisan surga
Yang membuat banyak bangsa iri
Karenanya semua berhasrat memilikinya

Ingin aku melihatnya
Berkenalan dengan manusia buminya
Merasakan kelembutan karakter manusia buminya
Bercengkrama & berakrab ria disana

Ingin aku bersama mereka
Bahkan dalam derita maupun suka
Bersama mereka membangun asa
Membangun harapan atas cinta-Nya

Aku ingin menjadi bagian dari mereka
Ya..bagian dari manusia bumi negeri ini
Yang bangga atas negeri-nya
Bangga atas bangsa-nya
Bangga atas bumi-nya

Kawanku
Inilah negeri-ku
Sungguh aku mencintai negeri ini
Karena darisinilah
Semua cerita ini bermula...

Semarang, 11 Januari 2011
Salleum sami

Read More

dengarkan yang tertangkap oleh diam
rinai hujan..teriakan
suara capung dan kelelawar
suara daun yang berjatuhan
sura angin...wusshh..
suara derik jangkrik

dengarkan yang tertangkap oleh jiwa
ombak yang berdebur
gemericik air
tabuhan gendang dan 'gung kehidupan'

dengarkan yang bisa kau dengar
jerit tangis bayi yang malang
sesumbar keangkuhan
teriakan pembasmian
terlempar pun disingkirkan

dengarkan...
suara ketakutan yang teramat
kegetiran...
ambisi dan nafsu
putus asa dan menyerah

tapi dengarkah kau
suara asa dan harapan
suara semangat dan kemauan
suara kejujuran...


dengarkah kau
suara bahagia yang membuncah
canda tawa ..berlari kejar mengejar


titisan keceriaan dari surga
seketika hilang semua derita 
terhapus semua air mata 


yang tersisa hanya senyum bahagia 
yang terukir di bibir dan di hati kita... 


itulah nyanyian hidup 
nyanyian jiwa... 
harmoni yang silih berganti 
beberapa menyakitkan 
beberapa menyenangkan 


untuk kebahagiaan
disanalah semua akan bermuara

Semarang, 11 Januari 2011
Salleum sami

Read More