Ada dua ekor burung merpati yang
terbang bersama-sama. Ketika akan memasuki satu kawasan tertentu. Tiba-tiba
burung yang satu berhenti dan melanjutkan perjalanannya dengan
Untuk Gaza
Palestina
Mereka adalah
gelombang kebangkitan
Mereka adalah
gelombang kebaikan
Nadi dalam
setiap perjuangan
Untuk
saudaraku Palestina
Kukabarkan kepada kalian
Disini kami
rindu…
Tidak akan
pernah putus do’a ini untukmu
Semangat ini
akan terus membara membelamu
Tidak akan
pernah mati…
Engkau
tahu…anak-anak kecil kami
Ya…Mujahid
Mujahidah cilik berlipat-lipat semangat
Panji-panji
dalam genggaman
Kibarkan
dengan gagahnya
Palestina…palestina..!!
sebuah seruan pembebasan
Takbir
mereka…ALLAHU AKBAR
Adalah
suntikan energy tanpa batas
Energi yang
menghidupkan jiwa
Energi yang
membangkitkan gelora
Keberaniaan
untuk melawan
Kami tahu
saudaraku
Pederitaan
kalian
Semangat
kalian
Keberanian
kalian
Terlalu
dasyat untuk dibandingkan
Perjuangan
kalian
Mujahid
Mujahidah yang tak pernah menyerah
Adalah
Inspirator sejati bagi semangat kami
Untuk
saudaraku Palestina
Lawan zionis
Israel la’nathullah
Intifadhah…intifadhah…
Perjuangan
batu-batu dan seruan suci
Menantang
tank-tank bangsa ‘pecundang’
Bangsa bar-bar
yang hanya memiliki nafsu binatang
Keyakinanmulah
saudaraku..
Ya..keyakinanmu
akan janji Allah
Janji sebuah
kemenangan
Menjadikan
batu-batu sedasyat jutaan detonator yang siap diledakan
Seruanmu
merontokkan sendi-sendi kesombongan
Dan
keangkuhan peluru-peluru tentara ‘pengecut’
Untuk
saudaraku Palestina
Ribuan
cahaya..bahkan juataan
Bahkan tak
terhingga banyaknya
Siluet cahaya
syahid syahidah palestina menghiasai bumi para Nabi
Setia
mengetarkan Arsy Illahi
Untuk
Mujahid Mujahidah Palestina terima kasih, kalian telah ajarkan kami banyak hal;
bagaimana harus mencintai Islam, membelanya,dan terus bersamanya. Narasi
kehidupan tentang keikhlasan dan kesungguhan kalian Mujahid Mujahidah
Palestina adalah sebuah cacatan sejarah yang membanggakan
Salam
rasa bangga tiada tara, untuk seluruh relawan gaza dalam kapal “mavi marmara”;
palestina. Dari kami yang masih berusaha “memberi arti walaupun dalam
titik yang paling sederhana”
Salleum
Sami
030610.08.46mlm
Apa yang membuatmu bahagia?
Jawaban apa yang bisa kau berikan untuk pertanyaan itu..
Andai aku yang ditanya
Ada satu hal yang membuatku bahagia
Satu hal yang mampu mengusir mendung dengan seketika
Ada satu hal yang membuatku bahagia
Satu hal yang mampu mengusir mendung dengan seketika
Mengusir kelam dengan sekejap saja
Satu hal itu adalah Seyuman Ibu ku
Seyuman yang bisa menghapus banyak air mata
Senyuman yang penuh kehangatan
Ketika melihat Ibu tersenyum padaku saat aku pulang
Satu hal itu adalah Seyuman Ibu ku
Seyuman yang bisa menghapus banyak air mata
Senyuman yang penuh kehangatan
Ketika melihat Ibu tersenyum padaku saat aku pulang
Mendengar tawa khasnya..
Melihat senyum sumringah yang terpancar dari wajahnya
Subhanallah
Seolah ada hawa sejuk yang mengalir
Subhanallah
Seolah ada hawa sejuk yang mengalir
Menyentuh lembut ke seluruh relung di hati ku
Sesuatu yang dingin menyenangkan
Sesuatu yang dingin menyenangkan
Menyatu dalam darah ku
Memberiku ketenangan yang sulit untuk bisa aku jelaskan
Memberi perasaan damai yang sulit untuk aku mengerti
Tiba-tiba saja
Tiba-tiba saja
Seperti suntikan hawa murni dunia kedalam diriku
Energi yang membuatku lebih berani
Memberiku kekuatan untuk terus melangkah
Seolah aku merasa seperti aku terlahir kembali
Memberiku kekuatan untuk terus melangkah
Seolah aku merasa seperti aku terlahir kembali
Seluruh jiwaku terasa lebih fresh
Ada suatu keinginan yang perlahan menyatu dalam diriku
Keinginan untuk menjaganya
Menjaga seyuman itu
Menjaganya agar jangan sampai hilang padam
Menjaganya sekuat tenagaku
Kau tak percaya?
Coba saja!
Kau akan tahu bahwa ternyata senyumannya
Lebih dari yang bisa kau mengerti
Seperti obat mujarap kebahagiaan
Setidaknya kau akan mulai menyadari
Betapa teduhnya senyumannya
Ya Allah aku memohon kepadamu
Seperti obat mujarap kebahagiaan
Setidaknya kau akan mulai menyadari
Betapa teduhnya senyumannya
Ya Allah aku memohon kepadamu
Berikanlah waktu lebih lama
Untukku bersama dan menjaga senyuman itu
Untukku bersama dan menjaga senyuman itu
Sejuta salam cinta untuk Ibuku dan
untuk Ibumu
Semarang, 14 Februari 2011
Salleum Sami
setiap waktu yang berlalu
nafas yang berhembus
detak yang berdenyut
akan selalu diiringi dua hal
perginya jiwa yang dikehendaki
dan lahirnya jiwa baru yang Allah ridhoi'
ber-iring doa..
selamat jalan sahabat
engkau adalah kenangan yang selalu kami rindu
inspirasi yang selalu hidup
...
...
Allah satu perindu-Mu telah datang
sambutlah ia dgn rahmatmu
dgn kasih dan cinta-Mu
Tuhan yang selalu mampu menghadirkan,
senyum di hati org beriman..
senyum di hati org beriman..
selamat jalan sahabat
do'a kami akan setia mengiringi langkahmu
Inalillahi wa inna ilaihi roji'un
dan setiap jiwa yang hidup
akan kembali kpd-Nya
kepada Allah Tuhan semesta...
mengenang saudara kami yang meninggal dunia pada pagi hari ini, sabtu 9 oktober 2010,
dalam sebuah kecelakaan
selamat jalan sahabat!!
Allah...terimalah terimalah ia disisi-Mu dgn sepenuh rahmat-Mu...
Salleum Sami
091010.11.45mlm
Ketika waktu ingin kita kembaliPada saat itu kita merindukan
Orang-orang yang pernah kita kenal
Ketika ia mengajak kita pergi
Dia ingin kita untuk terus bergerak maju
Biarkan yang lalu jadi kenangan
Yang terus hidup dalam jiwa
Inspirasi dalam hidup kita
Dan ketika ia jadi galak
Dia ingin kita bangkit
Penuh semangat
Berlipat-lipat tekad
Karena kita akan terus melangkah
Ya.. terus melangkah
Menyusuri jalan setapak masa depan
Merenda bahagia..
Mengukir senyum di bibir dan hati kita...
Inilah jalan kita, tegaslah!!
-SalleumSami-
300910.08.28pg
Kota yang
penuh bau busuk comberan
Air
sumringah bebas di jalanan
Macam
pertandingan GP di TV Cepat saling salip!!
Gedung
tinggi menjulang
Kemiskinan
jiwa hati
Kekeringan
senyum kasih
Perhatian
berganti tahta
Saling sikut
dan saling tendang
Yah semua
lenyap..lenyap
Bahasa sopan
adalah jegal
Bahasa
bijaksana adalah penkhianatan
Entah kapan
kembali
Air jernih
yang tenang mengalir
Hawa sejuk
yang menentramkan
Padang
ilalang yang penuh kehidupan
Katanya
menawarkan sejuta asa
Terbuai
indahnya sebuah kata
Meskipun
sering juga terdengar
Dendang
nyanyian kesombongan & keangkuhan
Yang
terlihat rasa welas asih yang terkikis
Jia peduli
yang sudah mati
Jiwa
miskin..
Jiwa kering..
-Salleum Sami-
270910.08.05mlm
Atas perubahan
Berjuang tanpa ragu
Belajar pada keadaan...
Bertarung dengan asa dan
Harapan...
Yakinlah ada di depan
Menunggu kita...!!!
Setitik cahaya terang
-Salleum sami-010510.06.45sr
Tidak perlu menutup hati nurani
Untuk menyatakan sebuah kebenaran
Tidak perlu perbedaan menjadi bahan utama permusuhan
Karena kebenaran dan perbedaan adalah fitrah
Ego yang berlebihan
Untuk menyatakan sebuah kebenaran
Tidak perlu perbedaan menjadi bahan utama permusuhan
Karena kebenaran dan perbedaan adalah fitrah
Ego yang berlebihan
Yang terkadang membuatnya menjadi
sesuatu yang salah
Ego kita yang membuat kita terkadang sulit mengakui kebenaran
Padahal kebenaran itu tampak nyata
Ego jualah tekadang membuat sebuah pembenaran
Bahwasanya perbedaan sering kali menjadi alasan permusuhan
Fitrah manusia itu saling menyayangi
Maka sayangilah…
Seperti langit menyayangi bumi dengan sinar mentarinya
Ranting.. daun.. dengan bunganya
Pagi dengan embun bening di ujung daunya
Seperti aku dan kamu
Ya seperti kita…
Karena Allah kita menyayangi
Karena Allah kita mencintai
Jangan biarkan mendung hitam terus bergelayut di hatimu
Jangan biarkan kelam merajam tajam
Bukalah hatimu untuk menyayangi
Bukan untuk meng-hegemoni
Bukalah hatimu untuk cinta
Bukan untuk cinta
Biarkan mereka mengalir lembut
Mengisi setiap relung di hatimu
Menghapus semua noda dan kelam
Jadikanlah cerah berbinar
Sekali-kali coba kau dengarkan kicau burung
Yang terbang bebas di antara ranting-ranting
Membebaskan diri bersama angin yang menabuh daun-daun
Rasakan dingin gemericik air.. hembusan angin..
Gelak tawa bocah-bocah yang riang bermain..
Kau tak akan percaya
Kau telah kembali pada titik yang semestinya
Siluet putih jingga...
Andai saja semua berawal dari sana
Mungkin.. akan ada banyak pelangi di hati kita..
Ego kita yang membuat kita terkadang sulit mengakui kebenaran
Padahal kebenaran itu tampak nyata
Ego jualah tekadang membuat sebuah pembenaran
Bahwasanya perbedaan sering kali menjadi alasan permusuhan
Fitrah manusia itu saling menyayangi
Maka sayangilah…
Seperti langit menyayangi bumi dengan sinar mentarinya
Ranting.. daun.. dengan bunganya
Pagi dengan embun bening di ujung daunya
Seperti aku dan kamu
Ya seperti kita…
Karena Allah kita menyayangi
Karena Allah kita mencintai
Jangan biarkan mendung hitam terus bergelayut di hatimu
Jangan biarkan kelam merajam tajam
Bukalah hatimu untuk menyayangi
Bukan untuk meng-hegemoni
Bukalah hatimu untuk cinta
Bukan untuk cinta
Biarkan mereka mengalir lembut
Mengisi setiap relung di hatimu
Menghapus semua noda dan kelam
Jadikanlah cerah berbinar
Sekali-kali coba kau dengarkan kicau burung
Yang terbang bebas di antara ranting-ranting
Membebaskan diri bersama angin yang menabuh daun-daun
Rasakan dingin gemericik air.. hembusan angin..
Gelak tawa bocah-bocah yang riang bermain..
Kau tak akan percaya
Kau telah kembali pada titik yang semestinya
Siluet putih jingga...
Andai saja semua berawal dari sana
Mungkin.. akan ada banyak pelangi di hati kita..
Semarang, Desember 2011
Salleum Sami
Ahamdulillah.. ada kesempatan untuk pulang kampung. InsyaAllah, moga esok lusa bisa melihat sinar matahari yang indah nan cerah di kampung halamanku. Ya Rabb semoga tak terhalang batu kerikil dan jalan- jalan berlubang serta kemacetan yang terlalu panjang. Aku ingin segera berjumpa dengan amakku, sosok hebat yang selalu memberi kami perlindungan dan kasih sayang. Mencium tangannya, sungkem bakti di pangkuannya.
...
Masih teringat saat tangannya yang sudah mulai keriput mengusap kepalaku, subhanallah seolah ingin kembali ke masa kanak-kanak. Terbayang olehku satu kenangan waktu kecil dulu, saat dimana aku merajuk, 'kesel' tidak mau berangkat sekolah, hanya gara-gara rambut yang sudah susa-payah aku rapikan dan aku bentuk gaya sedemikian rupa dengan seenaknya diacak-acak oleh kakakku. Gimana gak kesel, hampir limabelas menit aku menatanya. Susah payah.
Pagi-pagi sebelum berangkat sekolah
Mendengar ribut-ribut amak-pun segera datang "ssssttt pagi-pagi sudah ramai" sambil menatap kami berdua.
"Kakak ini sama adek selalu saja.." tidak meneruskan bicaranya -seolah tahu kalau kakak yang selalu memulai keributan. Perlahan amak menghampiri diriku yang sedang duduk beringsut di lantai dengan merapatkan tubuhku di pojokan balai. Wajah kutekuk. Pandangan jatuh ke bawah.
"Adek gak mau sekolah! kakak jahat!" dengan nada kesel, kupakukan pandanganku ke lantai. Posisi dudukku tidak berubah, kulipatkan kedua kaki dan kudekap lututku. Masih merapatkan tubuhku di pojokan balai.
"Kakak jahat" sekali lagi "pokoknya gak mau sekolah" kali ini aku sambil melihat wajah kakakku yang malah cengar-cenggir melihatku seperti itu. Tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Lho.. masa jagoan amak ndak sekolah??" penuh kelembutan dan kesabaran. amak menggendongku dan mendudukanku di pangkuannya.
"Yahh! jagoan..." sela kakakku sinis
"Ssstttt..."
"Habis kakak jahat! lihat ini amak" kutunjukkan rambutku yang sudah acak-acakan ndak karuan. Hasil ulah tangan jahat kakakku. "kan capek kalau harus nyisir lagi, sudah susah-susah..." amak berusaha mengusap rambutku dan merapikannya dengan jari-jarinya. Dengan penuh kelembutan. Dengan penuh kasih sayang.
Kelembutanya dan kasih sayangnya selalu saja mampu menghadirkan kesejukkan dalam hatiku. Terasa damai kembali.
"Pokoknya adek gak mau sekolah" datar, karena amarah yang sedikit demi sedikit habis.
"Ya Sudah..., sini biar amak yang nyisir rambut adek" menuntunku menuju ke depan cermin sambil kemudian pelan-pelan menyisir rambutku. Dengan penuh kelembutan. Dengan penuh kasih sayang.
Sedang kakakku masih sibuk membetulkan seragam sekolahnya.
"Nanti kakak biar amak yang hukum" mulai menyisisr rambutku dengan menambahkan sedikit minyak kelapa di rambut kepalaku sebelah depan.
Memang rambutku waktu kecil agak susah diatur. Sebelah depan keriting kriwil, samping dan belakang menggombak, jadi susah rapinya.
"Gak mau nanti! sekarang!" aku merajuk ayo amak, cepat hukum kakak, batinku.
Amak memanggil kakak, setelah sebelumnya aku berjanji, aku akan berangkat sekolah kalau kakak sudah dihukum.
"Kakak sini! tangan mana yang dipakai ngacak-ngacak rambut adek?"
Kakak menunjukkan tangan kanannya, kemudian mengulurkannya pada amak.
Cara amak menghukum kami itulah yang menurutku unik. Jadi saat amak akan memukul tangan kakak sebelumnya tangan kiri amak ditaruh diatas tangan kanan kakak. Kemudian amak memukulnya sebanyak tiga kali. Kakak terus akting pura-pura kesakitan "aduh.. aduh.. aduh.." walaupun sebetulnya tidak terasa sakit. Ya terang saja ndak sakit, karena pukulan amak tidak langsung pada tangan kakak, melainkan terlebih dahulu pada tangan amak sendiri. Walaupun begitu, waktu itu sudah membuatku cukup senang.
Aku menyadarinya saat aku sudah besar, aku punya adek, dan karena aku juga dihukum dengan cara seperti itu pula waktu jahil sama adekku. Ternyata benar, tidak sakit. , he..he..he
Subhanallah itu adalah hukuman dengan penuh kasih sayang. Mungkin sama, kalau nanti aku jadi orang tua aku akan memberi hukuman dengan cara yang seperti itu. Yang penuh kelembutan. Yang penuh kasih sayang.
...
Begitulah amak-ku
Amak yang amat kusayangi
Semoga Allah selalu menyayanginya sebagaimana beliau menyayangi kita
dan kita anaknya, ah rasanya kita tidak akan sanggup menandingi kasih sayangnya
Bahkan untuk menandingi satu kasih sayangnya-pun kita tidak akan sanggup
Bahkan untuk menandingi satu kasih sayangnya-pun kita tidak akan sanggup
Ya Rabbi
Aku ingin mewarnai hari-harinya dengan banyak pelangi
Aku ingin mengisi setiap waktunya dengan banyak senyuman
Ya Rabb..
Semoga Kau jadikan setiap detik yang berlalu darinya adalah kebahagiaan
-"Amak" I Love You -
...
Tidak akan pernah cukup, meski kita habiskan seluruh umur kita untuk membalas satu saja kasih sayang dari seorang ibu. Apalagi untuk seluruh kasih sayangnya...
Semarang, 07 Oktober 2011
Salleum Sami













